Opini | Media Jadi Alat Propaganda Hingga Menjadi Bias Negatif - MEDIA NASIONAL CAKRAWALA

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

10 April 2020

Opini | Media Jadi Alat Propaganda Hingga Menjadi Bias Negatif



Bondowoso, Media Nasional Cakrawala

Menyoal Opini Banci 

Oleh: Ketua DPC Bara JP Bondowoso, Edy Junaedi

Opini  bisa diartikan sebagai pandangan seseorang tentang suatu masalah. Tidak sekadar pendapat, tetapi pendapat ilmiah. Pendapat yang bisa dipertanggung jawabkan dengan berdasar dalil-dalil ilmiah yang disajikan dalam  bahasa  popular. 

Karena itulah, untuk menulis opini juga dibutuhkan riset sebagai penguat dari argumentasi penulis untuk menekankan gagasannya sehingga, opini menjadi lebih kuat dan argumentatif.

Mencermati pemberitaan dari salah satu media online di Bondowoso, tanggal 7 April 2020 “Korban Mutasi Buka Suara, Ratusan Juta Mengalir”  menurut saya, tulisan yang dimuat tersebut tidak bisa dikatakan sebagai karya jurnalistik karena masih mencampur adukkan opini dan fakta.  

Disebut opini subyektif karena, konten tulisan sangat tendensius namun, tanpa ada keberanian mengungkap fakta yang sebenarnya. Narasi yang dibangun hanya atas dasar kecurigaan dan kebencian dengan target dan tujuan tertentu. 

Rentetan berita sebelumnya yang secara konsisten dimuat, terutama terkait dengan jalannya roda pemerintahan di Kabupaten Bondowoso menggambarkan bahwa, media ini telah menjadi alat propaganda/negatif campaign. Point of view setiap narasi yang dibangun sangat jelas kemana arahnya. Setiap pemberitaan dikemas dengan dramatisasi dan festivalisasi point yang dianggap negatif yang lahir dari kebijakan salah satu pihak. Sementara, terhadap pihak yang dijadikan obyek berita tidak ada ruang yang sama untuk menyatakan klarifikasinya. 

Produk pemberitaan menjadi bias dan tidak berimbang (cover both side). Jenis berita seperti ini hanya bisa lahir dari media yang dalam prosesnya nyaris tanpa kendali internal. Pihak redaktur seolah tidak pernah melakukan quality control terhadap bobot tulisan. Apalagi jika dicermati dari sistem rekrutmen SDMnya yang cenderung tanpa proses filter memadai.

Kembali pada judul di atas “Korban Mutasi Buka Suara “Ratusan Juta Mengalir”, jika dicermati dari judul sebenarnya, tulisan ini lebih pas jika dikatagorikan sebagai hasil kegiatan reportase bukan opini pribadi. 

Judul tersebut memancing persepsi dan menyuguhkan harapan kepada pembaca tentang nara sumber yang jelas bahwa telah terjadi pratik jual beli jabatan. 

Apalagi dilihat dari gambarnya/capture sebagai ilustrasi pelengkap yang mengandung insinuasi bahwa yang menjadi tertuduh adalah Aparatur Pemerintah.

Memang tampak menarik perhatian karena memang rumus “bad news is a good news” masih berlaku disini. Namun, semakin jauh membaca sampai ke ujung ternyata isinya hanya opini pribadi belaka. Terdapat potongan wawancara imaginer pula sebagai penegas bahwa, ada pengakuan dari salah satu pelaku yang tak ingin identitasnya diungkap.

Judul dan leadnya seolah hasil kegiatan reportase namun, isinya hanya opini subyektif. Tak dapat dipungkiri memang informasi semacam ini berhasil menarik perhatian publik  karena seolah nyata sedang terjadi di sekitar kita. Namun, bagi orang luar terasa sangat aneh dan lucu karena kualitasnya yang sangat memprihatinkan, penuh nafsu dan beraroma tendensius dengan menyerang pribadi seseorang tanpa ampun. 

Dari sisi etika Jurnalistik tentu jauh panggang dari api, jurnalis yang sejatinya harus menjadi salah satu pilar demokrasi ternyata tidak bisa bersikap independen dan jauh dari ruh idealisme. 

Dapat disimpulkan bahwa, media ini sudah terlalu jauh menjadi alat kepentingan, beritikad buruk dan dengan sengaja mendiskreditkan pihak lain, menyiar beritakan hanya berdasarkan prasangka dan diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan kepentingan.

Selain tidak mendidik, opini tendensius semacam ini, berpotensi membunuh karakter seseorang. Penulisan identitas yang disembunyikan dengan inisial NN (No Name) juga menunjukkan bahwa, penulis ingin lari dari tanggung jawab. Sejatinya dalam setiap karya jurnalistik berupa opini maka, penulis harus menampilkan data secara lengkap. Adalah hal tidak wajar jika seorang penulis berani beropini tapi menyembunyikan jati dirinya. 

Karena, dalam beropinipun seorang penulis juga terikat dengan kode etik. Opini harus menampilkan data yang akurat, argumentasi dan identitas yang jelas. Beda dengan surat pembaca yang mayoritas isinya memang berupa laporan, pengaduan dan kritik. Pengirim boleh menyembunyikan identitas jika diperkirakan akan menimbulkan feedback berupa ancaman terhadap kenyamanan/keselamatan.

By the way, bagi saya opini tersebut hanya bualan di siang bolong yang tidak mengandung value sebagai karya jurnalistik. Penulis opini adalah seorang banci yang hanya bertujuan menebar opini dengan menyembunyikan fakta. Mengapa saya bilang menyembunyikan fakta? Karena konten opini tidak secara jantan mengungkap data dan kebenaran. Misalnya, jika yang disoal adanya indikasi jual beli jabatan mestinya diungkap saja siapa pelaku utamanya secara jelas dan  harus disertai dengan study comparatif dengan kejadian serupa pada masa lalu. Bagaimana perbandingannya? Mana yang lebih terstruktur, sistematis dan masif?  

Pembelokan sudut pandang yang menyasar pada masa dan rejim tertentu adalah upaya pembingkaian/framing yang menggiring persepsi publik sesuai dengan selera penulis. Padahal framing bisa menjadi kejahatan yang sempurna karena lebih sering dipergunakan untuk menyudutkan pihak tertentu tanpa mempertimbangkan aspek keadilan dan keberimbangan.

Sebagai salah satu alat kontrol kebijakan publik, media  menjadi gantungan masyarakat untuk memberikan andil dalam hal pengawasan (watch dog). Namun, karena peran dan fungsinya yang sangat strategis media dalam bentuk apapun tidak boleh alergi terhadap kritik. Lantas siapakah yang bisa mengkritisi media?  Kita lah sebagai khalayak pembaca yang harus melakukan pengawasan bahkan kritik. 

Agar ke depan media menjadi lebih dewasa, independen, professional dan mengedepankan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Dan yang paling penting tidak larut dalam arus kepentingan politik sehingga kehilangan kebebasan untuk berfikir obyektif.(Red)

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages