Ketua Majelis Hakim PN Situbondo Bacakan Putusan Sela, Gugatan CLS Berlanjut



Situbondo - Media Nasional Cakrawala 
Kontroversi terkait dengan adanya kegiatan prostitusi yang ada di wilayah Kabupaten Situbondo yang jelas dilarang oleh Perda Nomor 27 Tahun 2004 tentang Larangan Prostitusi.

Namun dalam hal ini Pemkab Situbondo tidak menjalankan amanah Peraturan Daerah yang membuat para aktivis yakni Ketum Gp Sakera, Syaiful Bahri dkk akhirnya melayangkan Gugatan CLS (Citizen Law Suit) kepada Bupati Situbondo Cs. Kali ini acara sidang Putusan Sela karena Putusan Sela ini menentukan Sidang Gugatan CLS ini berlanjut ataukah tidak.

Kemudian Perkara Gugatan CLS (Citizen Law Suit) terhadap Bupati Situbondo Cs oleh Ketum Gp Sakera, Syaiful Bahri dkk berlanjut setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Situbondo membacakam putusan sela. Rabu, (27/11/ 2019) di Ruang Sidang Utama.

Berita terkait (http://www.mediacakrawala.com/2019/09/babak-baru-sidang-lanjutan-gugatan-cls.html?m=1)

Putusan sela (Interim Meascure) adalah putusan yang dijatuhkan oleh Hakim sebelum hakim memeriksa pokok perkara baik perkara pidana maupun perkara perdata. Dalam perkara Gugatan CLS ( Citizen Law Suit ) antara Penggugat Ketum GP Sakera Syaiful Bahri sebagai Penggugat I, Ahmat Fatoni sebagai Penggugat II dan Sumyadi sebagai Penggugat III melawan Bupati Situbondo sebagai Tergugat I, Wakil Bupati sebagai Tergugat II dan Kasatpol PP serta Ketua DPRD Situbondo masing masing sebagai Tergugat III dan Tergugat IV terkait dengan Gugatan Warga Negara karena Negara.

Majelis Hakim yang di Ketuai oleh Hakim I Ketut Suarta, SH MH yang di dampingi Hakim Anggota I Ketut Darpawan, SH dan Novi SH me bacakan Putusan Sela Gugatan CLS para Penggugat. Sidang di ikuti semua pihak baik Para Penggugat dan Para Tergugat dan Turut Tergugat I Kapolres Situbonto yang dikuasakan kepada Kuasa Hukum Reno W SH juga di hadiri oleh Dandim Situbondo sebagai Turut Tergugat II yang di kuasakan kepada Suyitno.

Kemudian putusan sela dibacakan bergantian antara Hakim Ketua I Ketut Suarta dan Hakim anggota I Ketut Darpawan. Menurut Majelis bahwa Gugatan Para Penggugat sudah sesuai dengan syarat syarat gugatan CLS sehingga Majelis memutuskan bahwa Sidang Gugatan CLS dapat di lanjutkan ke acara pembuktian.

"Karena Gugatan para Penggugat sudah memenuhi unsur dalam Gugatan CLS. Maka Sidang akan di lanjutkan pekan depan hari Rabu tanggal 4 Desember 2019 dengan agenda pembuktian surat baik dari Para Penggugat dan Para Tergugat", ujar Ketua Majelis.

Sementara itu seusai sidang, Penggugat II Ahmat Fatoni mengatakan, "Jujur mas, ini sidang pertama saya jadi agak deg degan menunggu hasil putusan Sela ini. Alhamdulillah hasil putusannya Gugatan kami dilanjutkan".

Penggugat III, Sumyadi dengan surat pernyataannya mengatakan, "Kalau saya sendiri merasa sangat yakin Gugatan ini berlanjut karena kami percaya Syaiful Bahri sangat lihai dan cermat dalam penyusunan Gugatan dan juga kami percaya dengan Independent Hakim".

Lanjut Sumyadi, "Jadi untuk selanjutnya kami akan mempersiapkan bukti baik itu bukti tertulis dan saksi agar Hakim yakin bahwa Pemrintah ini lalai dalam menjalankan Perda Nomor 27 Tahun 2004".

Lebih jauh lagi menurut Sumyadi, "Sehingga bukan cuman nama baik Situbondo yang di coreng oleh Para Tergugat karena kota ini bukan lagi di kenal sebagai kota santri tapi kota lendir", jelasnya yang juga mempermasalahkan berdirinya cafe dan room-room karaoke di daerah Banyuglugur yang juga menjadi transaksi seks.

Dari pengamatan Tim S One Gugatan CLS ini memang menuai kontroversi, bagi orang-orang yang mendapat manfaat dengan adanya lokalisasi dan pelacuran menentang dan memperolok-olok gugatan CLS ini. Namun bagi para aktivis dan juga masyarakat yang menginginkan kota Situbondo agar menjaga marwah sebagai kota santri dan juga Bumi Sholawat Nariyah.

Gugatan CLS ini menjadi harapan besar upaya-upaya sebelumnya yang di lakukan baik berupa surat, hearing dan demo tidak di gubris oleh Bupati dan Wabup yang menginginkan Lokalisasi tetap berdiri dan tidak tersentuh. Hal ini dapat di buktikan hingga gugatan ini bergulir Lokalisasi tetap berjalan tenang tanpa ada gangguan dari pihak manapun.

Kemudian Bang Ipoel panggilan akrab Ketum Gp Sakera juga mengatakan, "Saya bersyukur, Putusan Sela Hakim berpihak kepada kami dan meneruskan Sidang Gugatan ini, saya sendiri heran kenapa Bupati dan Wabup yang katanya religius dan dekat dengan tokoh tokoh agama justru membiarkan Lokalisasi".

Bang Ipoel menambahkan, "Karena disamping menyangkut tentang moral dan agama juga sebagai salah satu tempat penyebaran HIV Aids sehingga kami sebagai masyarakat merasa was was dengan meningkatkan penderita HIV Aids walaupun kita tidak jajan ke Lokalisasi dan penderita sudah banyak".

Menurutnya, "Bisa jadi kami tertular karena hanya silet yang terkontaminasi di saat kami cukur rambut. Kami akan terus berjuang melawan Pemimpin yang sudah Dholim kepada kami sebagai rakyatnya", pungkasnya. (St1)
Label:

Post a Comment

AND1 Design

{facebook#https://web.facebook.com/AND1streetballer}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget