Madura dan RIS, Refleksi untuk Perjuangan Masyarakat Papua


Oleh Gus Din (Syafrudin Budiman SIP) Ketua Umum Presidium Pusat Barisan Pembaharuan (PP BP).

JAKARTA,MEDIA NASIONAL CAKRAWALA
Masyarakat Papua bisa mengilhami perjuangan masyakat Madura. Madura dulu sudah pernah menjadi negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS). Madura juga akhirnya bergabung ke Jawa Timur.

Kenapa begitu? Masyarakat Madura sangat tau RIS adalah bagian pecah belah belanda dan adu domba. Karena itulah negara Madura melebur menjadi bagian di Propinsi Jatim tidak menuntut menjadi Propinsi Madura. 

Kalau mau merdeka Madura dari dulu bisa, akan tetapi tak pernah dilakukan dan diteriakkan, sebab Madura adalah sebuah daerah atau suatu suku yang memahami peradaban dan kebebasan, bahwa segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Madura sebagai pemasok gas terbesar untuk Jawa Bali, pemasok gas untuk Semen Gresik, Petro Gresik dll. Di Madura ada Key, Exxon, Shell, Santos, EMP dll yang mengeplorasi migas. 

Pertanyaannya apakah masyarakat Madura sejahtera atau merdeka seutuhnya, tentu tidak dan masih banyak kemiskinan dan ketimpangan. 

Kenapa masyarakat Madura tidak meneriakkan kata Merdeka atau Referendum, karena kecintaan masyarakat Madura kepada bangsa Indonesia. Harta kekayaan dikuras pusat masuk ke APBN, dialirkan dalam bentuk DAU, DAK, DBH, CSR dll yang tak seberapa dibandingkan hasilnya. Lain lagi pajak cukai tembakau, pajak garam dan pajak lainnya yang bisa dikelola sendiri. Bahkan bisa menjadi negara kaya dan lebih maju dari Malayasia dan Brunai Darussalam, apalagi timor-timor (Timor Leste) yang tidak ada apa-apanya.

Mengapa warga Madura ikhlas bergabung dan menjadi bagian NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, padahal suku tersendiri, bahasa tersendiri, letak tersendiri, pengakuan internasional sebagai negara bagian RIS tertuang dalam perjanjian Linggar Jati antara Van Mook pihak Belanda dan Sutan Sjahrir pihak Indonesia. Keikhlasan ini karena suatu pemahaman, taat kepada pemimpin dan taat pada ulama adalah ciri-ciri orang beriman dan berakal.

Kalau mau Madura bisa jadi negara merdeka dan keluar dari RIS atau Belanda. Sehingga menjadi daerah yang merdeka sepenuh-penuhnya dan seutuhnya. Hal itu tidak terucap dan takkan pernah terucap, karena warga Madura setia pada pemimpin waktu itu Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Syafrudin Prawiranegara dll.

Sangat miris melihat fenomena saat ini, banyak daerah-daerah seperti Aceh dan Papua terucap kalimat tuntutan referendum, merdeka dan terprovokasi dengan gerakan sapartis yang ingin memisahkan diri. Mereka tak  sadar bahwa, semua penggunaan anggaran dari hasil daerah masuk ke pusat dan dibagi ke seluruh Indonesia dari Sabang sampai Mauruke.

Jadi kedepan ayo singsingkan lengan baju, bahu membahu menegakkan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika tanpa egois kedaerahan, kesukuan dan keagamaan. Rajut persaudaraan nasional, perkuat solidaritas dan gotong royong membangun bangsa Indonesia yang lebih baik dan lebih maju.

Kata D. Zawawi Imron seorang budayawan dan pernyair terkenal. "Tak ada kegagalan yang ada kecemasan," katanya mengingatkan bangsa Indonesia jangan cemas dan ragu, serta kedepan dengan tangan terkepal dan maju kemuka. D. Zawawi Imron juga mengatakan dalam puisinya, Madura Adalah Darahku, Indonesia Adalah Negeriku.

Hal ini bisa menjadi slogan yang sama buat orang-orang Papua dan Papua Barat. "Papua Adalah Darahku, Indonesia Adalah Negeriku".

Kekurangan pemimpin dalam mengelola bangsa Indonesia yang besar, harus kita pahami dan kita support agar menjadi lebih baik. Apapun kita sebagai warga Indonesia dan bangsa Indonesia harus hidup secara kolektif kolegial dan saling memahami kekurangan masing-masing.

Dalam Film Bumi Manusia 2019 karya sutradara terkenal Hanum Bramantyo, ada pemeran antagonis bernama Darsim dengan logat dan karakter Maduranya yang keras. Darsim menunjukkan kesetiaannya sebagai kusir dan pekerja Robert Mellema ekspatriat Belanda dan selirnya, Nyai Sanikem atau Nyai Ontosoroh.

Dia ikut membantu Nyai Ontosoroh Nyonyanya yang memperjuangkan perebutan harta benda warisan suaminya, karena vonis hakim yang menerapkan hukum kolonial berdasarkan hukum eropa, bukan hukum kesetaraan.

Darsim terlibat menjadi orang yang loyalis dan seorang yang agitatif mengorganisir golongan ulama, para buruh tani dalam aksi perlawanan di pengadilan, yang menganggap hukum kolonial tidak adil dan bertentangan dengan hukum Islam dan budaya Jawa.

Sosok Darsim sebagai seorang Madura setia pada tuannya, setia pada agamanya dan setia pada bangsanya untuk melawan ketidakadilan kolonial yang menindas.

Karena itu jika kita ambil pelajaran dari sosok Darsim sebagai orang Madura, terlihat jelas orang Madura sangat setia kepada NKRI dan mau melawan penjajah Belanda dengan gagah berani.

Kesadaran inilah yang perlu kita belajar kepada orang Madura yang sangat setia kepada NKRI. Walaupun sebelumnya menjadi negara tetapi tidak sombong, mengusungkan dada kedepan. Tidak mau juga menjadi Propinsi dan cukup menjadi bagian Jawa Timur, sebagai wujud persatuan agar tidak mudah dipecah belah Belanda, Asing, Eropa dan bahkan Amerika.


Salam Solidaritas, 
NKRI Harga Mati.

25 Agustus 2019.
Label:

Post a Comment

AND1 Design

{facebook#https://web.facebook.com/AND1streetballer}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget